Sudah lihat iklannya Dian Sastro yang mengusung “Cuma Rp. 0“? Ya, iklan tersebut sebenarnya menerangkan bahwa Mentari mempunyai sebuah kelebihan untuk masalah tarif yaitu paket freetalk 5000, artinya jika pada hari tersebut sudah menggunakan pulsa sebesar Rp 5000,- maka mendapatkan gratis telp sebesar Rp 5000,-. Sehingga freetalk ini yang disebut cuma Rp 0,-. Nah, karena Mbak Dian ini sudah memberikan saran “Ayo itung lagi!” ternyata mendapat respon yang baik dari Wanita berbaju orange bertuliskan Rp 1,-

tarif0.jpg

Selasa 9 okt 2007, saya cukup dikejutkan dengan sebuah iklan yang terpampang lebar di koran KOMPAS seluas 1 halaman koran yang isinya nampak sekali memancing suasana keruh di bulan puasa ini. Seharusnya dibulan puasa ini kita harus mampu menahan nafsu apalagi emosi. Nah lo, apa sih isi iklan tersebut?

  • Gentho : “Dab… koe moco iklan trus emosi yo?”
  • Dab Rider : ” Ora tho… wong moco iklan iki malah kesanne sing gawe iklan lagi emosi…”
  • Gentho : “Batal no posone?”
  • Dab rider : “Yo … ORAAA!!!”

xl.jpg

Kalau melihat dari iklan itu nampak sekali suatu nilai emosional yang ditonjolkan dan tidak menampakkan nilai edukasi sama sekali. Kok bisa? Berikut saya jabarkan :

  1. Tong kosong nyaring bunyinya : nampaknya kalimat tersebut ingin memojokkan “rivalnya” yang mungkin terlalu sering menampilkan iklan-iklannya di mediamasa dan televisi.
  2. Hati hati janji si NOL : dari sini keliatan sekali, siapa “rivalnya” itu ditambah lagi gambar cewek sedang duduk di tong yang dibawahnya tutup tong dengan tulisan Rp 0 hanya utk 3 mnt, bukan lain “rivalnya” yaitu Mbak Dian Sastrowardoyo.
  3. Dari kata2 janji tersebut, Cewek baju orange itu mulai menjelaskan/membuktikan sesuatu tabel perhitungan yang menurut dia, rivalnya tidak menepati janji. Sehingga dia bilang “Tetap Termurah Rp 1,-
  4. Dan dibawahnya lagi ditambah embel2 kalimat yang membuat orang membaca makin memantabkan posisi dia.
  5. Lalu dibawah sendiri ditambahi keterangan “Tabel perbandingan tarif JABODETABEK

Dari tulisan2 diatas, nampak sekali kalo nilai nilai emosi yang sangat ditonjolkan. Sehingga, dimana fungsi iklan sebagai informasi terhadap masyarakat tidak nampak dan tidak memberikan nilai edukasi apalagi hiburan. Lalu kesannya seperti apa? Coba anda rasakan sendiri? Apalagi jika saya jabarkan mengenai tabel yang sudah dijelaskan oleh Cewek Orange itu, maka apa yang dituliskan oleh dia, sebenarnya menampakkan citranya dia sendiri.

Tabel perhitungan tersebut membandingkan dengan nilai pulsa 5000.

Jika ada pulsa 5000 maka si Rp 1,- dapat digunakan selama 29 menit sedangkan si Rp 0,- hanya bisa digunakan selama 6 menit.

Apakah benar seperti itu? seperti mbak Dian bilang ayo hitung lagi! . Untuk si Rp 0,- , jika punya pulsa 5000 maka sebenarnya perhitungan yang dilakukan adalah berdasarkan fitur si Rp 0,- yaitu ada namanya program hebat Berlima. Program hebat berlima ini perhitungannya adalah berikut, jika digunakan untuk telpon ke 4 nomor yang sudah didaftarkan program hebat berlima maka tarif teleponnya menjadi Rp 50,- per 30 detik. Sehingga jika pulsa 5000 maka dapat digunakan untuk 50 Menit. Nah, itu belum lagi ditambah jika penggunaan pulsa 5000 tesebut mendapatkan freetalk 5000 , sehingga ditambah lagi waktu percakapan selama 50 menit, maka total percakapan yang dapat dilakukan adalah 100 Menit !! Lalu, kenapa ditabel tersebut menghitungnya 6 menit, karena dia mengunakan hitungan tarif Rp 1500,- / menit. Seharusnya tabel tersebut bertuliskan :

Jika ada pulsa 5000 maka si Rp 1,- dapat digunakan selama 29 menit sedangkan si Rp 0,- dapat digunakan selama 100 menit.

Lalu, bagaimana dengan 5 point yang sudah ditulis tadi diatas? Masyarakat sekarang sudah pintar, sudah dapat melakukan penilaian sendiri, dan biarkan mereka mencoba dulu sebagai bukti kebenaran agar tidak terkesan “Tong kosong bunyinya nyaring”. Dan ingat, mereka menganut aturan BEBAS, maka bebas untuk berbicara, bebas untuk menulis, bebas untuk berfikir dan bebas untuk berbuat. Dan betul, BEBAS MEMANG TAK ADA BATAS! seperti slogannya. Nah ini yang saya bilang, tidak ada nilai edukasinya.

Ada baiknya mbak Dian bilang “Itungan masih salah! Ayo itung lagi….”. ;)